Laman

Minggu, 03 Maret 2013

Festival Kaliantan

Untuk pertama kalinya pelaksanaan bau nyale dijpariwisata (bandingkan dengan Lombok Tengah yang memulai festival Bau Nyale di pantai Seger, Kuta, sekitar tahun 90an) di Kabupaten Lombok Timur. Dipusatkan di Pantai Kaliantan, Kecamatan Jerowaru. Pesta Rakyat tersebut diberi judul Festival Kaliantan.

Saya melihat antusiasme masyarakat menyambut pesta adat bau nyale ini sangat luar biasa. Mulai Sabtu pagi puluhan ribu manusia dari seluruh penjuru pulau Lombok mengalir menuju satu arah, Pantai Kaliantan. Festival Kaliantan yang dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat dan dihadiri oleh dua Menteri telah sanggup menyedot perhatian masyarakat untuk hadir di acara rakyat tersebut. Menjelang sore, kendaraan yang menuju dan dari Kaliantan mvulai tersendat-sendat karena jalanan hotmix yang sempit itu mulai dijejali begitu banyak kendaraan roda dua dan roda empat yang semuanya tidak sabar untuk bisa mencapai tempat acara.Jammed, macet. Saking macetnya, jarak yang biasa ditempuh dalam waktu 30 menit tersebut harus ditempuh dalam waktu 4 jam (dengan memakai mobil).

Sekitar jam 5, Acara pembukaan Festival Kaliantan dimulai. Diawali dengan laporan Ketua Panitia, sambutan Bupati Lombok Timur, Wamen Kemendikbud bidang Kebudayaan, dan akhirnya acara dibuka oleh Gunernur NTB dengan pidato yang sangat singkat (untuk ukuran pejabat), mengingat waktu yang sudah semakin sore.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan perisaian "saling gebuk" antara Bupati Lombok Lombok Timur dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat. Setelah itu, 5 pasang pepadu "peleq mate" dari Lombok Tengah dan Lombok Timur mengadu ketangkasannya berperang dengan bersenjatakan penjalin dan bertamengkan ende. Perisaian ini menyedot perhatian yang luar biasa dari penggemar olah raga perisaian. Hadiah pepadu diberikan menurut "saweran" yang tersedia. Dalam setiap partai, ada penonton yang bersedia merogoh uang dan menempatkannya di tengah arena, dan itu dijadikan hadian bagi para pepadu yang bertarung dalam partai itu. Dalam hal ini, saya agak kurang sreg dengan cara itu. Kesan saya kurang koordinasi dan tidak professional dan sopan karena terlihat seolah-olah panitia memaksa tamu undangan untuk mengeluarkan uang membiayai perisaian tersebut.

Setelah 5 partai berakhir, Gubernur NTB, Bpk H. Zainul Majdi meninggalkan acara bersama dengan tamu undangan lainnya. Perisaian dilanjutkan, tapi panitia mengumumkan bahwa pawai adat tidak dapat diselenggarakan akibat keterbatasan waktu, sehingga peserta pawai yang sebagian besar anak-anak sekolah merasa kecewa dengan pembatalan tersebut.

Saat itu memang sudah sangat-sangat sore. Waktu shalat Maghrib sudah tiba. Saya mencari tempat wudhu, dan kebetulan sekali pemda menyediakan mobil tangki air untuk para pengunjung berwudhu. Setelah shalat Maghrib berjamaah yang diimami oleh Bapak Bupati Lombok Timur, saya bergabung dengan teman-teman dari Lombok Photowork Art. Dan saatnya makan malam.

Kami mencari tempat makan malam. Setelah meliauk-liuk diantara puluhan ribu pengunjung dan stand orang berjualan, kami dapatkan stand warung yang tidak jauh dari pantai. Makan malam terasa nikmat sekali. Mungkin karena lapar dan lelah macet tadi sore. Iseng-iseng saya bertanya ke ibu pemilik warung, dia menjawab bahwa panitia mengambil sewa stand untuk warung makan tersebut sebesar 250 ribu rupiah. Saya jadi berhitung berapa besar uang yang diperoleh panitia dari karcis masuk dan stand jualan? Saya iseng-iseng menghitung stand tempat orang berjualan dari tempat saya makan sampai ke kaki bukit tempat kami bermalam, tidak kurang dari 120 buah. Kalau dihitung semuanya, berapa ya? Lapangan Tambak Bole tempat acara dilangsungkan memiliki luas sekitar 5 hektar dan semuanya dipenuhi orang jualan dan pengunjung.

Dari atas bukit, pemandangannya menjadi terlihat spektakuler dengan lampu-lampu yang bersinar terang dan iring-iringan kendaraan yang mjengular tidak putus-putusnya. Di atas bukit kami temukan sudah ramai dengan pengunjung yang mendirikan tenda. Di atas sana juga ada mobil-mobil Katana yang terparkir rapi menghadap ke lapangan acara. Agak lebih ke atas, ada tenda POLISI.

Saya tidur agak cepat malam itu, mengingat kami harus bangun jam 3 pagi supaya mendapatkan moment yang bagus untuk dipotret. Menjelang jam 3 pagi saya keluar tenda dan berkeliling mencari objek foto. Orang-orang yang duduk di pinggir tebing, melihat lampu di tengah laut, atau di lapangan, ada juga yang duduk melingkar mengelilingi api unggun, tapi sebagian besar mulai berkemas turun untuk menangkap nyale.

Setelah shalat Subuh, suasananya menjadi hingar bingar dengan suara orang menuju pantai di bawah sana. Sesekali ada teriakan "jabuuuuttt" yang juga saya agak sesalkan, karena ada pengunjung yang menyahit dengan teriakan-teriakan mesum. Mengeluh dalam hati, "apakah orang Sasak harus selamanya begini?"

Sekitar jam 7, ombak mulai meninggi, dan para pemburu nyale menepi. Tenda-tenda dibongkar dan kembali kami terjebak kemacetan selama 2 jam menuju pulang. See you next year.

Berikut adalah galery photonya.
Pra acara

Sambutan Bupati Lombok Timur
Acara dibuka Bapak Gubernur NTB

Penyerahan Bantuan Untuk Kelompok Seni dan Budaya Lokal

Do'a di akhir acara pembukaan


Peserta Pawai

Perisaian

Menonton Perisaian
Menonton Perisaian

Motor Emboung menjelang senja

Pusat acara dari atas bukit

Bau Nyale dimulai


Bau nyale


Bau Nyale

Menonton para hunters menuju pulang



Tidak ada komentar: